BAB II

LANDASAN TEORI

2.1    Tinjauan Teori

2.1.1   Kajian Tentang Strategi Pemasaran

2.1.1.1       Pengertian Pemasaran

Menurut Subroto (2011:1) istilah pemasaran dapat diartikan dalam berbagai konteks sesuai dengan pengembangan strategi yang dilakukan perusahaan.Istilah pemasaran yang diterima secara luas dan terkenal sebagai konsep pemasaran adalah pemasaran yang didasarkan pada pengenalan kebutuhan konsumen.Dengan konsep ini, pemasaran dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang diarahkan untuk mengenali dan memenuhi atau memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen atau pelanggan.

Kotler dalam Subroto (2011:1) mendefinisikan pemasaran sebagai dimana suatu proses sosial dimana setiap individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan individu atau kelompok lainnya. Dengan kata lain, pemasaran adalah

kegiatan manusia untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan manuasia melalui proses pertukaran.

Definisi pemasaran yang terbaru menurut Americano Marketing Association dalam Subroto (2011:1) adalah :

“Marketing is an organization function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value tocustomers and for managing customer relationship, in ways that benefit the organization and stakeholders”

Dengan kata lain, pemasaran adalah proses penciptaan, pengkomunikasian, dan penyampaian nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan baik dengan pelanggan, dengan cara yang menguntungkan baik bagi perusahaan maupun bagi pelanggan.

Definisi pemasaran yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan suatu sistem dari kegiatan  bisnis yang saling berhubungan dan ditujukan untuk merencanakan, menciptakan, mendistribusikan dan mempromosikan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen.

2.1.1.2  Konsep Pemasaran

Menurut Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra (2012:20) konsep pemasaran (marketing concept) yaitu pandangan bahwa kunci untuk mewujudkan tujuan organisasi dalam menciptakan, memberikan dan mengkomunikasikan nilai pelanggan (customer value) kepada pasar sasarannya secara lebih efektif dibandingkan pada pesaing. Nilai pelanggan adalah rasio antara apa yang diperoleh pelanggan dan apa yang ia berikan.

Konsep  pemasaran bertumpu pada empat pilar utama: pasar sasaran (target market), kebutuhan pelanggan, pemasaran terintegrasi (integrated marketing), dan profitabilitas. Pasar sasaran adalah pelanggan yang dipilh untuk dilayani dengan program pemasaran khusus bagi pelanggan tersebut.

Konsep pemasaran juga menekankan tentang integrasi antar fungsi pemasaran (seperti wiraniaga, periklanan, layanan pelanggan, manajemen produk, risert pemasaran) dan antar departemen (seperti departemen riset dan pengembangan, departemen keuangan, departemen SDM dan departemen produksi). Dengan kata lain, dibutuhkan keselarasan antara external marketing (pemasaran yang ditujukan kepada pihak-pihak di luar perusahaan) dan internal marketing (proses merekrut, menyeleksi, melatih, dan memotivasi para karyawan sehingga karyawan dapat melayani pelanggan secara memuaskan). Tujuan akhir dalam konsep pemasaran adalah membantu sebuah perusahaan untuk mencapai tujuannya.

2.1.1.3       Pengertian Strategi

Setiap perusahaan mempunyai strategi untuk mendukung aktivitas perusahaan dimana strategi harus sesuai dengan keadaan dan kondisi masyarakat.Strategi adalah suatu program yang mendukung untuk mencapai suatu tujuan perusahaan.

Menurut Candler dalam Rangkuti (2008:3) strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta proritas alokasi sumber daya.

Menurut Hamel dan Prahald dalam Rangkuti (2008:4) Strategi merupakan tindakan yang bersifatincremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari “apa yang dapat terjadi” dan bukan dimulai dari “apa yang terjadi”.Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (come competencies).Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalambisnis yang dilakukan.

2.1.1.4       Pengertian Strategi Pemasaran

Menurut Kotler (2005), Strategi pemasaran (marketing strategy) adalah penerapan strategi pemasaran yang tepat dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif bagi perusahaan, terutama dalam hal mempertahankan pelanggan, penguasaan pangasa pasar yang ada, serta manghadapi persaingan.

Sedangkan menurut Fandy Tjiptono dan Gregorius Chandra (2012:193) bahwa strategi pemasaran merupakan rencana yang menjabarkan ekspektasi perusahaan akan dampak dari berbagai aktivitas atau program pemasaran terhadap permintaan produk atau lini produknya dipasar sasaran tertentu.

2.1.1.5       Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah suatu kegiatan pemasaran yang meliputi variabel penyajian produk, penetapan harga, dan penyampaian produk serta promosi. Bauran pemasaran memiliki peran dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli barang atau jasa yang ditawarkan .

Definisi bauran pemasaran menurut Kotler dan Keller (2006:19), yaitu

“Marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursue its’s marketing objectives in the target market”.

Melalui penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa bauran pemasaran merupakan segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alat pemasaran yang dapat dikendalikan perusahaan guna mencapai tujuan.

2.1.1.6  Unsur-Unsur Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Bauran pemasaran memiliki empat kelompok variabel utama (4P), yaitu :product, price, place and promotion. Variabel-variabel tersebut saling berkaitan satu sama lain dan dikombinasikan oleh perusahaan agar menjadi suatu bauran yang tepat yang akan digunakan oleh perusahaan dalam mencapai tujuan pemasaran.

Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (2008:62) bauran pemasaran terdiri dari semua hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya. Berbagai kemungkinan dalam bauran pemasaran tersebut di kelompokkan menjadi empat kelompok variabel yang disebut “empat P” :Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat), Promotion (Promosi)yang masing-masing variabel bauran pemasaran memiliki pengertian sebagai berikut:

  1. 1.      Product (Produk)

          Produk berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar sasaran.Dalam melakukan penawaran produk perlu dipertimbangkan beberapa aspek lain, seperti: Ragam, Kualitas, Desain, Fitur, Nama Merek, Kemasan dan Layanan.

  1. 2.      Price ( Harga)

Harga merupakan pengorbanan bagi konsumen untuk mendapatkan atau membeli sebuah produk.Pada umunya berupa sejumlah uang yang dibayarkan oleh konsumen kepada produsen untuk mendapatkan suatu produk. Varibel ini mempunyai saran-saran yaitu: daftar harga, potongan harga, syarat kredit dan periode pembayaran.

  1. 3.      Place (Tempat)

Alat bauran pemasaran untuk segala aktifitas perusahaan agar produknya mudah terjangkau dan tersedianya bagi pasar sasarannya.

  1. 4.      Promotion (Promosi)

Alat bauran pemasaran untuk segala aktifitas yang dilakukan oeh perusahaan untuk mengkomunikasikan produknya kepada pasar sasarannya.merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen sasaran untuk membeli produknya. Adapaun sarana-sarana yang terkandung didalamnya yaitu periklanan, personal seling, promosi penjualan publisitas.

2.1.2   Kajian Tentang Segmentasi, Targeting dan Positioning

2.1.2.1       Pengertian Segmentasi Pasar

Menurut Hermawan Kartajaya (2006:20-24), segmentasi adalah sebuah metode bagaimana melihat pasar secara kreatif.Artinya sebagai pelaku pemasaran perlu melihat segmentasi sebagai seni mengidentifikasi dan memanfaatkan beragam peluang yang muncul dipasar. Dengan segmentasi yang tepat akan dapat memanfaatkan sumber daya sesuai dengan segmen-segmen pasar yang telah diidentifikasi. Segmentasi merupakan faktor kunci yang penting untukmengalahkan pesaing dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang berbeda.

Menurut Fandy Tjiptono (2008:151) segmentasi pasar merupakan proses mengelompokkan konsumen ke dalam kelompok atau segmen tertentu yang memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan dan keinginan, perilaku, dan respon terhadap program pemasaran.

Jadi segmentasi pasar merupakan proses yang menyeluruh dimana perusahaan harus memperhatikan konsumen dari masing-masing segmen, sehingga anggaran yang dikeluarkan akan lebih ekonomis apabila unit-unit konsumen tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok demi mencapai tingkat laba maksimum.

2.1.2.2       Manfaat Segmentasi Pasar

Dengan adanya segmentasi pasar perusahaan akan lebih mudah melakukan peningkatan volume penjualan produk pada segmen pasar yang dimasuki. Ada banyak cara untuk melakukan segmentasi pasar. Namun, tidak semua segmentasi bisa efektif.Agar dapat bermanfaat secara maksimal, maka segmen-segmen pasar harus memenuhi beberapa karakteristik. Berikut enam karakteristik manfaat segmentasi pasar yang efektif menurut Fandy Tjiptono (2008:158), yaitu :

  1. 1.      Dapat diidentifikasi dan diukur (Identifiable and measurable), karakteristik anggota segmen harus dapat diidentifikasi dengan mudah. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi ukuran dan daya beli segmen pasar.
  2. 2.      Dapat diakses (Accessible), segmen pasar harus dapat diakses dalam hal komunikasi (periklanan, surat, telepon, email, dan lain-lain) dan distribusi (saluran, dan gerai ritel)
  3. 3.      Substantial, segmen harus cukup besar dan menguntungkan utuk dilayani. Potensi laba harus lebih besar daripada biaya yang dibutuhkan unuk merancang program pemasaran khusus bagi segmen bersangkutan.
  4. 4.      Differentiable, segmen-segmen dapat dipilah secra konseptual dan merespon secara berbeda terhadap setiap elemen dan program bauran pemasaran.
  5. 5.      Actionable, program-programm yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen-segmen yang diidentifikasi.
  6. 6.      Viable and sustainable, segmen pasar harus memenuhi criteria dasar untuk pertukaran termasuk diantaranya berdaya beli, siap, bersedia, dan mampu menjalin bisnis dengan perusahaan. Segmen tersebut juga harus berkesinambungan dalam jangka panjang agar memungkinkan perusahaan merancang strategi pemasaran secara efektif untuk melayani kebutuhan segmen bersangkutan.

2.1.2.3       Tujuan Segmentasi Pasar

Menurut Tjiptono (2012), tujuan utama dilakukan segmentasi pasar, targeting, dan positioning adalah menempatkan suatu produk atau pun merek didalam benak konsuen sehingga produk atau merek tersebut memiliki keistimewaan atau keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

2.1.2.4       Pengertian Targeting

Menurut Herawan Kartajaya (2006:137), targeting adalah strategi mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif, karena sumber daya yang dimiliki terbatas. Dengan menentukan target yang akan dibidik, usaha dalam memasarkan produk lebih terarah.

Market targeting atau pasar sasaran adalah sebuah pasar yang terdiri dari pelanggan potensial dengan kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin mau dan mampu untuk ambil bagian dalam transaksi, guna memuaskan kebutuhan konsumen.

Menurut Tjiptono dan Chandra (2012:62), pengertian pasar sasaran adalah proses mengevaluasi dan memilih atau beberapa segmen pasar yang dinilai paling menarik untuk dilayani dengan program pemasaran spesifik pemasaran perusahaan.

Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi perusahaan pada saat mengevaluasi dan menentukan segmen yang ditargetkan, diantaranya :

  1. Memastikan bahwa segmen pasar yang dipilih itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan (market size).
  2. Strategi targeting itu harus didasarkan pada keunggulan daya saing perusahaan (competitive advantages). Keunggulan daya saing merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan memiliki kekuatan dan keahlian yang memadai untuk mendominasi segmen pasar yang dipilih.
  3. Melihat situasi persaingan (competitive situation) yang terjadi. Semakin tinggi tingkat persaingan, maka perusahaan perlu mengoptimalkan segala usaha yang ada secara efektif dan efisien sehingga targeting yang dilakukan akan sesuai dengan keadaan yang ada di pasar.

2.1.2.5       Manfaat Market Targeting

Adapun manfaat dari market targeting, yaitu

  1. Mengembangkan posisi produk dan strategi bauran pemasaran .
  2. Memudahkan penyesuaian produk yang dipasarkan dan strategi bauran pemasaran dijalankan (harga yang tepat, saluran distribusi yang efektif, promosi yang tepat) degan target pasar.
  3. Membidik peluang pasar lebih luas, hal ini penting saat memasarkan produk baru.
  4. Memanfatkan sumber daya perusahaan yang terbatas seefisien dan seefektif mungkin.
  5. Mengantisipasi persaingan dengn mengidentifikasikan bagian pasar yang dapat dilayani secara efektif, perusahaan akan berada pada posisi lebih baik dengan melayani konsumen tertentu dari pasar tersebut.

2.1.2.6       Pengertian Positioning

Definisi positioning menurut Ali Hasan (2008:200), positioning adalah sebuah merek di bagaian pasar di mana merek tersebut akan mendapatkan sambutan positif dibandingkan dengan produk-produk saingannya.

Sedangkan menurut Philip Kotler dalam Jaka Wasana (2008:408), penerapan atau positioning adalah tindakan merancang produk, dan bauran pemasaran agar dapat tercipta kesan tertentu di ingatan konsumen.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa positioning sangat berhubungan dengan market segmentatiton dan market targeting karena penempatan produk tersebut ditujukan melayani target market tertentu serta sebagai salah satu strategi yang digunakan perusahaan dalam mendesain produk-produk untuk menanamkan suatu kesan, image dan citra produk di benak konsumen sehingga produk tersebut terlihat berbeda dengan produk pesaing.

2.1.3        Kajian Tentang Diferensiasi Produk dan Jasa Pemasaran

2

2.1.2

2.1.3.1       Pengertian Diferensiasi

Menurut Catur Sugiyanto (2007) diferensiasi berarti bahwa suatu produk atau jasa tidak hanya dilihat dari keberbedaannya dengan produk atau jasa yang sudah ada, melainkan juga merupakan titik keunggulan dibandingkan yang lainnya.

Esensi dari strategi diferensiasi adalah perusahaan dapat memberikan perbedaan yang lebih unik dari pada pesaing, sehingga dengan itu konsumen memiliki nilai yang lebi tinggi.

Sedangkan menurut Hermawan Kertajaya (2004:12) diferensiasi sebagai upaya penawaran yang ditawarkana kepada konsumen tidak hanya harus dipersepsikan oleh pelanggan sebgai berbeda, namun harus benar-benar berbeda dalam hal konten “apa yang perusahaan tawarkan kepada pelanggan” (what to offer), konteks “bagaimana cara perusahaan menawarkannya”(how to offer), dan infrastruktur “faktor pemungkin” (enable) diferensiasi yang perusahaan lakukan.

2.1.3.2       Pengertian Produk

Banyak orang menganggap produk adalah suatu penawaran nyata, tetapi produk bisa lebih dari itu.pengertian produk secara luas, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keiginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, property, organisasi, informasi, dll.

Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2008:31) produk adalah elemen pertama dan terpenting dalam bauran pemasaran.Strategi produk membutuhkan pengambilan keputusan yang terkoordinasi dalam bauran produk, lini produk, merek, serta pengemasan dan pelabelan.

.      Selain itu menurut Fandy Tjiptono (2008:232) produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka produk didefinisikan sebagai kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk didalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merek ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.

Dalam dunia bisnis, kalangan pemasar biasanya dituntut untuk memahami tingkatan-tingkatan produk.. Menurut Kotler dan Keller (2008:4) tingkatan produk tersebut merupakan bagian dari hierarki nilai pelanggan (cutomer-value hierarchy)yang terdiri dari :

  1. Manfaat inti (core benefit)

Merupakan layanan atau manfaat yang benar-benar dibeli dan dibutuhkan  oleh pelanggan.

  1. Produk dasar (basic product)

Pemasar harus mampu mengubah manfaat inti menjadi produk dasar (basic product) agar dapat berfungsi.Seperti kamar hotel meliputi tempat tidur, kamar mandi, handuk, meja, lemari pakaian, dan toilet.

  1. Produk yang diharapkan (expected product)

Pemasar mempersiapkan produk yang diharapkan yang merupakan terdiri dari sekelompok atribut dan kondisi yang layak dan diharapkan dapat disepakati untuk dibeli.

  1. Produk tambahan (augmented product)

Produk tambahan merupakan berbagai atribut produk yang dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing.

  1. Produk potensial (potential product)

Produk potensial merupakan segala macam yang mencakup kemungkinan tambahan dan transformasi yang mungkin dialam sebuah produk untuk penawaran produk di masa mendatang.

2.1.3.3       Bauran Produk

Suatu produk merupakan hal paling penting dari perusahaan, produk dapat berupa barang atau jasa. Pemasar atau produsen harus lebih mengerti akan keinginan dan kebutuhan konsumen. Produsen harus menyesuaikan keinginan dan kebutuhan konsumen  dengan upaya tertentu dan salah satunya adalah dengan upaya bauran produk sebagai tindakannya.

Menurut Kotler dan Keller  (2008:15), bahwa bauran produk (product mix) disebut juga sebagai pilihan produk (product assortment) yaitu kumpulan semua produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh penjual tertentu kepada pembeli, dimana bauran produk terdiri dari berbagai lini produk. Lini produk (product line) merupakan kelompok produk didalam kelas produk yang berhubungan erat karena mempunyai fungsi yang serupa, dijual kepada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama dengan kisaran harga tertentu.

Bauran produk memiliki dimensi-dimensi yang harus dimiliki oleh perusahaan dalam menciptakan serta memperluas  produk. Dimensi bauran produk ini memberikan kemudahan untuk menentukan strategi produk. Menurut Kotler dan Keller (2008:16), bauran produk perusahaan mempunyai lebar, panjang , kedalaman, dan konsitensi tertentu.

  1. Lebar bauran produk mengacu pada beberapa banyak lini produk berbeda yang ditawarkan oleh perusahaan.
  2. Panjang bauran produk mengacu pada jumlah total produk dalam bauran .dengan cara membagi panjang total dan jumlah lini produk.
  3. Kedalaman bauran produk mengacu pada banyaknya varian yang ditawarkan masing-masing produk dalam lini.
  4. Konsestensi dari bauran produk mengacu seberapa dekat hubungan dari berbagai lini produk pada pengguna akhir, persyaratan produksi, saluran distribusi atau dengan cara yang lain.

Dengan empat dimensi bauran produk tersebut dapat mengizinkan perusahaan untuk memperluas bisnis mereka, yaitu perusahaan dapat menambah lini produk, memperlebar bauran produknya dan perusahaan dapat berusaha mencapai konsistensi yang lebih dari lini poduk .

2.1.3.4       Diferensiasi Produk

Menurut Kotler dan Keller (2009: 9) Diferensiasi dapat dibedakan menjadidua macam, yaitu diferensiasi produk dan diferensiasi jasa.Deferensiasi produk adalah kegiatan memodifikasi produk agar lebih menarik dan dilakukan dengan cara mengubah karakter produk. Deferensiasi memerlukan penelitian pasar yang cukup serius agar bisa benar-benar berbeda dan diperlukan juga pengetahuan tentang produk pesaing.

Menurut Kotler dan Keller (2008:8) produk fisik mempunyai potensi diferensiasi yang beragam.Pada salah satu titik ekstrem, kita menemukan produk yang memungkinkan sedikit variasi. Di sini penjual menghadapi sejumlah kemungkinan diferensiasi, termasuk bentuk, fitur, penyesuaian, kualitas kinerja, kualitas kesesuaian, ketahanan, keandalan, kemudahan perbaikan dan gaya, berikut penjelasan nya :

  1. Bentuk (Form)

Banyak produk dapat dideferensiasikan berdsarakan bentuk (form) ukuran,bentuk atau struktur fisik sebuah produk.

  1. Fitur (Feature)

Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan memvariasikan fitur (feature) yang melengkapi fungsi dasar mereka.Perusahaan dapat mengidentifikasi dan memilih fitur baru yang tepat dengan mensurvei pembeli baru dan menghitung perbandingan nilai pelanggan dengan biaya perusahaan untuk setiap fitur potensial. Jadi, setiap perusahaan harus memutuskan apakah akan menawarkan penyesuaian fitur pada biaya yang lebih tinggi atau beberapa kemasan standar dengan biaya yang lebih rendah.

  1. Penyesuaian

Pemasar dapat mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk tersebut dengan keinginan perindividu.Ketika perusahaan semakin pandai mengumpulkan informasi tentang pelanggan perindividu dan mitra bisnis (pemasok, distributor, pengecer) dan ketika pabrik dirancang lebih fleksibel, mereka telahmeningkatkan kemampuan mereka untuk mengindividualisasikan penawaran pasar, pesan dan media.Penyesuaian missal (mass customization) adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan setiap pelanggan untuk menyiapkan produk, jasa, program, dan komunikasi berbasis misal yang dirancang secra individual.

  1. Kualitas Kinerja (Performance Quality)

Sebagian besar produk ditetapkan pada satu dari empat tingkat kinerja, yaitu : rendah, rata-rata, tinggu atau unggul. Kualitas kinerja (performance quality) adalah tingkat dimana karakteristik utama produk beroperasi.Kualitas menjadi dimensi yang semakin penting untuk diferensiasi ketika perusahaan menerapkan sebuah model nilai dan memberikan kualitas yang lebih tinggi dengan uang yang lebih rendah.Produsen harus merancang tingkat kualitas kinerjayang tepat bagi pasar sasaran dan tingkat kinerja pesaing. Dengan terus memprbaiki produk, perusahaan dapat menghasilakn tingkat pengembalian dan pangsa pasar yang tinggi, kegagalan melakukannya akan memebrikan konsekoensi negative.

  1. Kualitas Kesesuaian (Conformance quality)

Pembeli mengharapkan produk mempunyai kualitas kesesuaian (conformance quality) yang tinggi, yaitu tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.

  1. Ketahanan (Durability)

Ketahanan (durability), ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk-produk tertentu. Pembeli biasanya akan membayar lebih untuk kendaraan dan peralatan dapur yang mempunyai reputasu mengagmkan karena tahan lama. Peraturan ini mempunyai beberapa kualifikasi bahwa harga tidak boleh berlebihan dan produk tidak boleh terpapar ketertinggian teknologi yang cepat.

  1. Keandalan (Reability)

Pembeli biasanya akan membayar lebih untuk produk yang lebih dapat diandalakan. Keandalan (reliability) adalah ukuran probabilitas bahwa produk tidak akan mengalami malfungsi atau gagal dalam periode waktu tertentu.

  1. Kemudahan Perbaikan (Repaibility)

Kemudahan perbaikan (repairability) adalah ukuran kemudahan perbaikan produk ketika produk itu tidak berfungsi atau gagal.Kemudahan perbaikan yang ideal terjadi jika pengguna dapat memperbaiki sendiri produk tersebut dengan sedikit biaya dan waktu.

  1. Gaya (Style)

Gaya (style) menggambarkan penampilan dan rasa produk kepada pembeli.Gaya adalah kelebihan dalam menciptakan perbedaan yang sulit untuk ditiru.

  1. Desain (Design)

Ketika  persaingan semakin kuat, desain menawarkan satu cara potensial untuk mendiferensiasikan serta memposisikan produk dan jasa perusahaan. Desain merupakan factor yang sering memberi keunggulan kompetitif kepada perusahaan.Desain (design)adalah totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan.

2.1.3.5       Atribut Produk Diferensiasi Perhotelan

Strategi diferensiasi menjadikan suatu produk yang dimengerti oleh konsumen sebagai sesuatu yang unik.Strategi diferensiasi memberikan kepuasan kepada para pelanggan dan memelihara loyalitas mereka.Dalam strategi diferensiasi terdapat atribut-atribut difrensiasi yang ada pada produk. Atribut produk dapat memberikan gambaran yang jelas tentang produk  itu sendiri.

Menurut Tjiptono (2007;103) yaitu, atribut produk adalah unsur–unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Sedangkan atribut produk menurut Kotler dan Amstrong (2004:347) bahwa atribut produk merupakan pengembangan produk dan jasa pendefinisian manfaat-manfaat yang  akan ditawarkan

Dari defenisi-defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang mencerminkan pengembangan suatu produk untuk dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian.

Berikut atribut-atribut diferensiasi produk dalam perhotelan :

  1. Merek (Brand Image)

Atribut diferensiasi merek sangat dipengaruhi konsumen dalam menentukan pilihannya atas suatu produk dan tentunya sebuah merek merupakan alat diferensiasi produk dan suatu tanda dimana datu komoditi dapat dibedakan dengan lainnya dan juga pilihan para konsumen secara sitimatis dipengaruhi oleh perbandingan secara langsung pada merek milik pesaing.

Menurut Fandy Tjiptono (2008:104) mendefinisikan merek (brand) adalah nama,istilah, tanda, symbol/ lambang, desain, warna, gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing. Pada dasarnya suatu merek juga merupakan janji penjual untuk secara konsisten menyampaikan serangkaian cirri-ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada para konsumen.Merek yang baik juga menyampaikan tambahan berupa jaminan kualitas.

Merek sendiri memiliki beberapa tujuan, yaitu :

  1. Sebagai identitas, yang bermanfaat dalam diferensiasi atau membedakan produk suatu perusahaan dengan produk pesaingnya. Merek memudahkan konsumen untuk mengenali produk dan akan melakukan pembelian ulang.
  2. Sebagai alat promosi, yaitu sebagai daya tarik produk.
  3. Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan, jaminan, kualitas, serta prestise tertentu kepada konsumen.
  4. Untuk mengendalikan pasar.

Bagi perusahaan penetuan merek atas suatu produk sangatlah penting, karena hanya dengan merek itulah maka produk-produk yang dihasilkan akan dikenal dan diketahui keberadannya oleh konsumen. Pada prinsipnya merek mempunyai prioritas utama dalam penentuan pilihan atas suatu produk oleh para konsumen, disamping harga.

  1. Kualitas Pelayanan

Kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai suatu hubungan antra tingkat persepsi konsumen terhadap pelayanan yang diterima dengan harapan terhadap kualitas pelayanan tersebut sebelumnya.Kualitas pelayan berpusat pada upaya pemenuhan dan kerugian pelanggan serta ketetapan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan.

Pengertian kualitas pelayanan menurut Fandy Tjiptono (2011:59), yatu kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian tingkat keunggulan produk dalam memenuhi keinginan pelanggan.Sedangkan menurut Kotler & Armstrong (2008:224), kualitas produk adalah dampak langsung dari performa produk yang berhubungan dengan nilai (value) dan kepuasan konsumen.

Pelayanan yang baik dan berkualitas merupakan awal yang diharapkan dari para konsumen dalam menentukan pilihannya atas suatu produk dari beberapa proses tahapan. Kualitas dan pelayanan yang baik (optimal) merupakan tujuan dari perusahaan khususnya perusahaan jasa seperti  hotel dan tentunya sebagai tolak ukur yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Kualitas pelayanan digunakan konsumen untuk menentukan atau menilai suatu produk, bila pelayanan buruk perusahaan akan mendapat citra buruk dimata konsumen.konsumen tidak akan ragu mengeluarkab uang atau biaya lebih banyak bila pelayanan yang diberikan memang berkualitas dan dapat memeberikan kepuasan maksimal terhadap konsumen, shingga ketertarikan konsumen terhadap suatu produk meningkat.

  1. Inovasi

Salah satu metode untuk mengembangkan dan menjalankan rencana pemasaran agar produk yang ditawarkan oleh perusahaan berbeda dan lebih baik dari pada pesaing sehingga perusahaan bisaa lebih unggul dalam persaingan adalah membuat produk, dengan atribut yang memiliki keunikan, baik dari segi desain maupun model yang diciptakan.

Inovasi berhubungan dengan terciptanya suatu keunikan model produk yang menghasilkan penegenalan secara cepat dari konsumen melalui panca indera.Keunikan produk tersebut yang membedakan karakter produk perusahaan dengan produk perusahaan pesaing yang merupakan salah satu atribut untuk mempengaruhi niat beli konsumen terhadap produk tersebut.

Definisi inovasi produk menurut Hurley dan Hult dalam Kusumo (2006:22), mendefinisikan inovasi sebagai sebuah mekanisme perusahaan untuk beradaptasi dalam lingkungan yang dinamis, perusahaan dituntut untuk mampu menciptakan pemikiran-pemikiran baru, gagasan-gagasan baru dan menawarkan produk yang inovatif serta peningkatan pelayanan memuaskan konsumen.

Inovasi merupakan salah satu atribut penting dalam kesuksesan suatu perusahaan sebagai proses pengembangan dan perbaikan dalam  menyajikan produk untuk dapat beradaptasi terhadap lingkungan pasar yang dinamis.

  1. Penetapan Harga

Harga merupakan salah satu alat pembanding dari atribut-atribut sebanding yang lebih mudah di hitung dan diperbandingkan. Penetapan keputusan harga merupakan unsur yang penting dalam memilih suatu produk, konsumen dihadapkan pada beberapa variasi harga,danapabila produk tersebut mempunyai nilai lebih dibandingkan produklainnya makakonsumen tidak akan memprtimbangkan masalah harga.

Menurut Fandy Tjiptono (2008:151), bahwa harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hal kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa.

Harga khusunya merupakan pertukaran uang bagi barang atau jasa juga pengorbanan waktu karena menunggu untuk memperoleh barang atau jasa.Harga dapat berhubungan dengan segala sesuatu dengan nilai persepsi, tidak hanya uang.Maka perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor dalam menetapkan kebijakan harga.

2.1.3.6       Pengertian Jasa

Jasa sering dipandang sebagai suatu fenomena yang rumit.Jasa terkadang cukup sulit dibedakan secara khusus dengan barang.Hal ini disebabkan pembelian suatu barang kerap kali disertai jasa-jasa tertentu dan begitu pula sebaliknya dengan pembelian jasa yang sering melibatkan barang-barang tertentu untuk melengkapinya.Kata ‘jasa’ (service) itu sendiri mempunyai banyak arti, mulai dari pelayanan pribadi (personal service) sampai jasa sebagai produk.Sejauh ini sudah banyak pakar pemasaran jasa yang berusaha mendefinisikan pengertian jasa.

Pada dasarnya jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya bukan berbentuk produk fisik atau kontruksi, yang umumnya dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan serta memberikan nilai tambah (misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, atau kesehatan) konsumen.

Menurut Kotler dan Keller (2012:214) jasa (service) adalah:

“any act or performance that one party can offer another that is essensially intangible and does not result in the ownership of anything. It’s production may or not be tied to a physical product”.

Kotler mendefinisikan jasa adalah setiap aktifitas, manfaat atau performance yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang bersifat intangible dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun dimana dalam produksinya dapat terikat maupun tidak dengan produk fisik.

Berdasarkan definisi diatas terlihat perbedaan yang cukup jelas antara produk yang berupa jasa dengan produk yang berupa barang. Jasa merupakan serangkaian tindakan atau aktivitas yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud, dapat memberikan nilai tambah tanpa menyebabkan perubahan kepemilikan (transfer of ownership) walaupun dalam produksinya, jasa dapat melibatkan produk fisik untuk mendukungnya.

2.1.3.7       Bauran Pemasaran Jasa

Menurut Hurriyati (2005:49) bahwa bauran pemasaran jasa mengacu pada konsep bauran pemasaran tradisional yang terdiri dari 4P, yaitu produk, harga, tempat/lokasi dan promosi yang diperluas dengan penambahan unsure non tradisional yaitu orang, fasilitas fisik dan proses sehingga menjadi tujuh unsur.

Adapun masing-masing unsur bauran pemasaran jasa di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Produk (product) jasa

Menurut Kotler dalam Hendra (2000:428), yaitu produk jasa merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan.

  1. Tarif harga (price)
    1. Pengertian Harga

Harga menjadi faktor penentu dalam pembelian dan menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan bagian pasar dan tingkat keuntungan perusahaan.Define harga menurut Tjiptono (2002:151) menyatakan bahwa harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa.

  1. Tujuan Penetapan Harga

Perusahaan di dalam menetapkan harga sebaiknya mengadakan pendekatan terhadap penentuan harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Menurut Tjiptono (2002:152-153) ada lima  jenis tujuan penetapan harga, yaitu :

a)        Tujuan berorientasi pada laba

Tujuan ini dipakai oleh perusahaan yang menggunakan pendekatan target laba yaitu tingkat laba yang diharapkan sebagi sasaran laba. Ada dua jenis target laba yang digunakan yakni target margin dan target return of investment.

b)        Tujuan berorientasi pada volume

Harga yang ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume penjualan, nilai penjualan rupiah, atau target pangsa pasar.

c)        Tujuan beriorientasi pada citra

Citra (image) suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi penetapan harga. Harga tinggi dapat membentuk atau mempertahankan citra prestisius, sementara itu harga rendah dapat digunakan untuk membentuk citra nilai tertentu (image of value).Misalnya dengan memberikan jaminan bahwa harganya merupakan harga yang terndah di suatu wilayah tertentu.

d)       Tujuan stabilisasi harga

Stabilisasi dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dengan harga pemimpin industri.

e)        Tujuan-tujuan lainnya

Harga dapat pula di tetapkan dengan tujuan mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjulan ulang, atau menghindari campur tangan pemerintah.

  1. Tempat/Lokasi Pelayanan (place)

Menurut Huriyati (2005:55), yaitu untuk produk industri manufactur place diartikan sebagai saluran distribusi, sedangkan untuk produk industri jasa, place diartikan sebagai tempat pelayanan jasa.

  1. Promosi (promotion)

Menurut Alma (2000:135), promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa. Tujuan promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, dan meyakinkan calon konsumen.

Bauran promosi (promotion mix) menurut Kotler (2005:264) memiliki lima perangkat, yaitu :

1)        Advertising, yaitu penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi produk atau jasa yang dilakukan sponsor tertentu yang dibayar.

2)        Sales Promotion, yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan membeli suatu produk.

3)        Public relation and publicity, yaitu program untuk mempromosikan dan melindungi citra perusahaan atau produk individualnya.

4)        Personal Selling, yaitu interaksi langsung dengan calon pembeli atau lebih untuk melakukan suatu presentasi, menjawab langsung dan menerima pesanan.

5)        Direct marketing, yaitu alat penghubung nonpersonal lain untuk berkomunikasi secara dengan atau mendapatkan tanggapan langsung dari pelanggan.

  1. Orang (people)

Menurut Hurriyati (2005:62), menyatakan bahwa semua perilaku yang memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat memperngaruhi pembeli. Elemen-elemen dari people adalah pegawai perusahaan, konsumen dan konsumen lain dalam lingkungan jasa.

  1. Pendukung fisik

Menurut Nirwana (2004:47), fasilitas pendukung merupakan bagian dari pemasaran jasa yang memiliki peranan cukup penting. Karena jasa yang disampaikan kepada pelanggan tidak jarang memerlukan fasilitas pendukung di dalam penyampaian.

  1. Proses (process)

Prosesmenurut Zeitmal dalam Hurriyati (2005:64), proses adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas yag digunakan untuk menyampaikan jasa.

Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan sering merasakan system penyerahan jasa sebagai bagian dari jasa itu sendiri.

2.1.3.8       Diferensiasi Jasa

Diferensiasi jasa dibutuhkan ketika produk fisik tidak mudah didiferensiasikan, dimana kunci keberhasilan kompetitif mungkin terletak pada menambah layanan yangbernilai dan meningkatkan kualitas mereka.

Menurut Kotler dan Keller (2008:13) diferensiasi jasa dapat diibedakan menjadi, antara lain

  1. Kemudahan Pemesanan (Ordering Ease)

Kemudahan pemesanan (ordering ease) mengacu pada seberapa mudah pelanggan menempatkan pesanan dengan perusahaan.

  1. Pengiriman (Delivery)

Pengiriman (delivery) mengacu pada seberapa baik produk atau jasa dibawa ke pelanggan. Pengiriman meliputi kecepatan, akurasu dan perawatan sepanjang proses.

  1. 3.      Instalasi (Instalation)

Instalasi (installation) mengacu pada pekerjaan yang dilakukan untuk membuat produk beroperasi dilokasi yang direncanakan.

  1. Pelatihan Pelanggan (Customer Training)

Pelatihan pelanggan (customer training) mengacu pada pelatihan karyawan pelanggan untuk menggunakan peralatan pemasok dengan benar dan efisien.

  1. Konsultasi Pelanggan (Customer Consulting)

Konsultasi pelanggan (customer consulting) mengacu pada data, system informasi, dan layanan nasihat yang ditawarkan perusahaan kepada pembeli.

  1. Pemeliharaan dan Perbaikan (Maintenance and Repair)

Pemeliharaan dan perbaikan menggambarkan program layanan untuk membantu pelanggan mempertahankan produk yang dibeli dalam kondisi yang baik.

  1. Pengembalian

Pengembalian merupakan salah satu strategi pengembalian dasar yang dapat diterapkan perusahaan yaiu berusaha menghilangkan akar penyebab engembalian yang dapat dikendalikan sementara pada saat yang sama mengembangkan proses penanganan untuk pengembalian produk yang tidak dapat dikendalikan.

2.1.4             Kajian Tentang Hotel

2.1.4.1       Pengertian Hotel

Menurut Morisson dalam Gaffar (2007:12) Industri perhotelan merupakan bagian dari hospitality industri yaitu suatu industri yang menyediakan produk dan jasa kepada pelanggan yang jauh dari rumah).Industry hospitality sendiri meliputi industri perhotelan (Hotel,Motel,Caottages,Inns,Resort,dll) Restoran ( Cafe,Pubs,Bars,dll)termasuk pula dengan Biro Jasa Perjalanan seperti travel agent, tempat rekreasi beserta fasilitas permainannya.Secara garis besar,hospitality industry dibagi menjadi lodging operations, food/beverage services, serta travel and tourism.Hotel berada dibawah lodging operations bersama-sama dengan motels,motor hotels,resorts,perkemahan,taman,dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut The American Hotel and Motel Association (AHMA) adalah :

“A hotel may be defined an establishment whose primary business is providing lodging facilities for the general public and which furnishes one or more of the following services, uniformed serviced, laundering of linens and us of furnitures”. 

Dari beberapa konsep di atas dapat disimpulkan bahwa hotel adalah sebuah usaha komersial yang melayani dibidang jasa dengan menyediakan sebuah akomodasi beserta fasilitas lainnya seperti pelayanan penginapan, makan, minum serta jasa penunjang lainnya yang disewakan kepada para tamu yang tinggal untuk sementara waktu dan dikelola secara professional.

2.1.4.2       Jenis dan Klasifikasi Penggolongan Hotel

Klasifikasi usaha hotel menurut Richard dalam Gaffar   (2007:15) adalah suatu sistem pengelompokkan hotel dalam berbagai kelas atau tingkatan berdasarkan ukuran penilaian tertentu.Klasikfikasi tersebut bisa dilakukan menurut standart hotel, jumlah kamar, jenis tamu, lama tinggal, bintang, tipe harga, tarif kamar, lama operasi hotel, serta lokasi hotel.

Klasifikasi menurut standart hotel didasarkan kepada manajemen, kapasitas atau jumlah kamar, fasilitas, penempatan tenaga kerja, serta administrasi. Berdasarkan hal tersebut maka hotel berdasarkan standartnya dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Hotel Internasional
  2. Hotel Semi Internasional
  3. Serta Hotel Nasional

Menurut Bagyono (2012:63) Hotel dapat diklasifikasi menjadi 8 kategori, yaitu :

  1. Luas dan Jumlah Kamar
    1. Hotel kecil (small hotel), adalah hotel yang memiliki lebih dari 25 kamar atau kurang dari 100 kamar.
    2. Hotel Menengah (above average hotel), ialah hotel yang memiliki lebih dari 100 kamar dan kurang dari 300 kamar.
    3. Hotel Besar (largehotel), yaitu hotel yang memiliki lebih dari 300 kamar.
    4. Jenis Tamu yang Menginap
      1. a.      Family hotel, yaitu tamu yang menginap bersama keluarga.
      2. b.      Business hotel, yaitu tamu yang mayoritas adalah menginap dengan tujuan bisnis sehingga diperlukan tata cara yang praktis dan cepat dalam pelayan serta fasilitas bisnis sebagai penunjang.
      3. c.       Commercial hotel, yaitu tamu hotel dari kalangan pengusaha.
      4. d.      Tourist hotel, yaitu tamu yang menginap mayoritas para wisatawan sehingga diperlukan penataan hotel yang artistik serta tersedianya sarana informasi wisata serta barang-barang kerajinan tangan dan sebagainya.
      5. e.       Official hotel, yaitu hotel yang mayoritas tamunya adalah dari instansi atau perusahaan yang sedang melaksanakan perjalanan dinas sehingga biasanya lokasinya berada di daerah perkantoran atau instansi dan relatif sama dengan business hotel.
      6. f.        Transit hotel, yaitu apabila mayoritas tamunya adalah mereka yanga melanjutkan perjalanan seperti hotel bandara; cure hotel yaitu apabila tamu yang menginap terutama mereka yang akan merawat diri untuk tujuan pengobatan seperti air panas mineral.
      7. g.      Convention hotel, yaitu hotel yang dirancang untuk keperluan penyelenggaraan konvensi.
      8. Lama Tamu Menginap
        1. a.      Transient hotel, yaitu dimana para tamunya menginap hanya untuk satu atau dua malam.
        2. b.      Semi-residential hotel, yaitu hotel dimana para tamunya lebih dari dua malam sampai satu minggu.
        3. c.       Residential hotel, yaitu hotel dimana para tamunya menginap untuk jangka waktu lama, lebih satu minggu.
        4. Lokasi
          1. a.      Mountain hotel, adalah hotel yang terletak di daerah pegunungan.
          2. b.      Beach hotel, adalah hotel yang terletak di tepi pantai.
          3. c.       City hotel, adalah hotel yang berlokasi di perkotaan.
          4. d.      Highway hotel, adalah hotel yang terletak di tepi jalan bebas hambatan dan biasanya diantara dua kota.
          5. e.       Airport hotel, adalah hotel yang terletak tidak jauh dari airport.
          6. f.        Resort hotel, adalah hotel yang berlokasi di kawasan wisata.
  1. Lamanya buka dalam setahun
    1. a.      Seasonal hotel, yaitu hotel yang hanya buka pada waktu-waktu tertentu dalam setahun (3bulan, 6 bulan, 9 bulan).
    2. b.      Year-round hotel, yaitu hotel yang buka sepanjang tahun.
    3. Berdasarkan Tarif Kamar
      1. a.      Economy class hotel, ialah hotel yag memiliki tarif kamar kelas ekonomi (harga kamar relatif murah).
      2. b.      First class hotel, yaitu hotel dengan tarif kamar mahal.
      3. c.       Dekuxe/luxury, yaitu hotel yang memiliki harga kamar sangat mahal.
      4. Menurut Bintang (star)

Berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.KM.3/HK 001/MKP.02 tahun 2002 tentang Penggolongan Kelas Hotel, dengan table gambar sebagaiberikut :

Tabel 2.1

Pengelompokkan Hotel

No

Jenis Hotel

Keterangan

1.

Bintang Satu

-          Jumlah kamar standart, minimum 15 kamar-          Kamar mandi dalam

-          Luas kamar standart minimum 20 m2

2.

Bintang Dua

-          Jumlah kamar standart,minimum 20 kamar-          Kamar Suite minimum 1 kamar

 

-          Kamar mandi dalam

-          Luas  kamar standart minimum 22 m2

3.

Bintang Tiga

-          Jumlah kamar standart, minimum  30 kamar-          Kamar suite minimum 2 kamar

 

-          Kamar mandi dalam

-          Luas kamar suite minimum 48 m2

4.

Bintang Empat

-          Jumlah kamar standart minimum 50 kamar-          Kamar suite minimum 3 kamar

 

-          Kamar mandi dalam

-          Luas kamar standart minimum 24 m2

-          Luas kamar suite minimum 48 m2

5.

Bintang Lima

-          Jumlah kamar standart minimum 100 kamar-          Kamar suite minimum 4 kamar

 

-          Kamar mandu dalam

-          Luas kamar sandart minimum 26 m2

-          Luas kamar suite minimum 52 m2

Sumber : Menteri Kebudayaan dan Pariwisata

Unsur atau Komponen Harga Kamar (Type of Plan)

  1. European Plan Hotel (EP), ialah hotel yang menetapkan bahwa harga kamar hanya untuk kamar saja.
  2. Continental Plan Hotel (CP), ialah hotel yang menetapkan bahwa harga kamar termasuk makan pagi.
  3. Modified American Plan Hotel (MAP), ialah hotel menetapkan bahwa kamar termasuk dua kali makan (makan pagi, siang atau malam).
  4. Full American Plan (FAP), yaitu harga kamar termasuk tiga kali makan.

Golongan kelas hotel dapat ditingkatkan dan diturunkan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan.Setiap hotel berbintang maupun hotel melati dapat diberikan penghargaan (award) tambahan setelah memenuhi persyaratan dasar dalam kriteria penggolongan kelas hotel, yaitu “hotel berlian”. Dengan dikeluarkannya peraturan terbaru ini, maka akanada hotel melati dengan kategori berlian.

2.1.4.3       Jenis Produk Dalam Klasifikasi Hotel Bintang Tiga

Terdapat klasifikasi hotel yang berlaku di Indonesia yang didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu :

  1. Jumlah Kamar :
  2. Fasilitas dan Peralatan yang disediakan
  3. Model sistem pengelolaan
  4. Bermotto pelayanan

Berdasarkan pertimbangan aspek-aspek di atas, hotel bintang tiga dapat diklasifikasi sebagai berikut :

  1. Memiliki unsur dekorasi Indonesia tercemin di dalam lobby, restoran, kamar tidur, dan fuction room.
  2. 2.      Bedroom
    1. Hotel bintang tiga memiliki minimum 20 kamar standar dengan luasan 22 m2 per kamar.
    2. Terdapat minimum dua kamar suite dengan luasan kamar 44 m2 perkamar dan tinggi minimum setiap lantai adalah 2,6 m.
    3. Untuk Dining room, bila tidak berdampingan dengan lobby maka harus dilengkapi dengan kamar mandi/ WC sendiri.
    4. Bar

Apabila berupa ruang tertutup maka harus dilengkapi dengan pengatur udara mekanik (AC) dengan suhu 240C dan lebar ruang kerja bartender setidaknya 1m.

  1. Ruang fungsional,

Pada bintang hotelbintang minimum terdapat satu buah pintu masuk yang terpisah dari lobby dengan kapasitas minimum 2,5 kali jumlah kamar. Dilengkapi dengan toilet apabila tiadk ada satu lantai dengan lobby serta terdapat pre function room.

  1. Lobby

Hotel bintang tiga memiliki luas minimum 30 m2, dilengkapi dengan lounge, toilet umum minimum satu buah dengan perlengkapan dan lebar koridor minimum 1,6 m.

  1. 6.      Drug Store
    1. Minimum terdapat drug store, bank ,money changer, biro perjalanan, air line agent, souvenir shop, perkantoran, butik, dan salon.
    2. Tersedia Poliklinik dan paramedis
    3. Sarana Rekreasi dan Olah Raga
      1. Minimum satu buah dengan pilihan, antara lain : tenis, bowling, golf, fitness, sauna, billiard, jogging, diskotik, dan taman bermain anak.
      2. Terdapa kolam renang dewasa yang terpisah dengan kolam renang anak.
      3. Sarana rekreasi untuk hotel di pantai dapat dipilih dari alternatif berperahu, menyelam, selancar atau ski air.
      4. Sarana rekreasi untuk hotel di gunung dapat dipilih dari alternatif hiking, berkuda atau beburu.
  1. Utulitas penunjang
    1. Terdapat vertikal yang bersifat mekanis.
    2. Ketersediaan air minum 500 liter perhari.
    3. Dilengkapi dengan instalasi air panas atau dingin.
    4. Dilengkapi dengan telepon local dan interlokal
    5. Tersedia PABX
    6. Dilengkapi dengan sentra video/TV, radio, dan paging

2.1.5        Tinjauan Tentang Tingkat Hunian Kamar

2.1.5.1       Pengertian Tingkat Hunian Kamar

Merupakan suatu keadaan sampai sejauh mana jumlah kamar terjual, jika diperbandingkan dengan seluruh jumlah kamar yang mampu untuk dijual.Pengertian rasio occupancy merupakan tolak ukur keberhasilan hotel dalam menjual produk utamanya, yaitu kamar.

Night auditor biasnya mengumpulkan dat-data dari “room division” dan menghitung “occupancy ratios”, sementara front office manager menganalisis informasi ini untuk mengidentifikasi “trends” (sesuatu yang sedang hangat berlangsung), “pattern” (pola tamu) atau “problems” (masalah yang dihadapi).

2.1.5.2       Pengertian Single Occupancy, Double Occupancy dan Hotel  Occupancy

           Hotel Occupancy adalah tingkat hunian kamar dari suatu hotel yang mana data tersebut dapat digunakan sebagai alat pembanding bagi hotel itu sendiri terhadap hotel lain dalam rangka “bisnis”. Hotel Occupancy dihitung setiap hari/perhari.

  • Rumus single Occupancy

% Single Occupancy =  x 100

  • Ø Rumus Double Occupancy

% Double Occupancy =

x100 %

(Endar Sugiyarto, 2002:72)

2.2            Penelitian yang Relevan

Dalam proses penelitian ini, penelitian menemukan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan, antara lain :

  1. Penulis Ruslan Effendi pada tahun 2009 dengan judul “Pengaruh Promotional Mix Terhadap Tingkat Hunian Kamar Hotel Lor In Solo” mengemukakan bahwa advertising, sales promotion, public relation dan personal selling  dapat berpengaruh terhadap peningkatan hunian kamar hotel. Pada penelitian tersebut dikemukakan bahwa di dalam strategi pemasaran metode promotional mix sangat berpengaruh terhadap tingakat hunian kamar tamu di Hotel Lor In Solo.

Persamaan dari peneliti dan penelitian terdahulu adalah :

a.Menggunakan metode dekriptif dan kualitatif.

  1. Menggunakan variabel (X) yang sama yaitu Strategi Pemasaran.

c.Perusahaan penelitian merupakan perusahaan di bidang hospitality

Perbedaan dari peneliti dan peneliti terdahulu adalah :

a.Peneliti terdahulu menggunakan promosi mix sebagai variabel independen sedangkan peneliti menggunakan strategi pemasaran sebagai variabel independen.

  1. Lokasi dan narasumber yang berbeda.
  2. Penulis Dwi Fitriana Dewi pada tahun 2014 dengan judul “Analisis Strategi Pemasaran Perhotelan di Grand Clarion Hotel dan Convention Makassar” mengemukakan,bahwa analisis SWOT sangat berpengaruh positif terhadap perusahaan dalam menghadapi persaingan dan pertumbuhan bisnis perhotelan di Makassar.

Persamaan dari peneliti dan penelitian terdahulu adalah :

a.Menggunakan metode dekriptif dan kualitatif.

  1. Menggunakan teori marketing mix sebagai dasar penelitian.

c.Menggunakan tujuan penelitian yang sama, yaitu tentang strategi pemasaran.

Perbedaan dari peneliti dan peneliti terdahuluadalah :

a.Peneliti terdahulu menggunakan analisis SWOT sebagai independen variabel sedangkan peneliti menggunakan strategi pemasaran sebagai indenden variabel.

  1. Peneliti terdahulu menggunakan alternatif strategi hotel sebagai independen variabel sedangkan peneliti menggunakan tingkat occupancy hotel sebagain dependen variabel.

c.Peneliiti terdahulu meggunakan kualitas SDM dalam pengumpulan data sedangkan peneliti menggunakan metode pendekatan terhadap diferensiasi produk jasa untuk pengumpulan data  di Hotel Aziza Solo.

  1. Penulis Jefry Boy Nanda pada tahun 2010 dengan judul “Pengaruh Strategi Marketing Terhadap Tingkat Hunian Kamar Hotel Sahid Jaya Solo” mengemukakan bahwa strategi marketing sangat berpengaruh dalam tingkat hunian kamar serta meningkatkan laba hotel secara maksimum.

Persamaan dari peneliti dan penelitian terdahulu adalah :

a.Menggunakan metode dekriptif dan kualitatif.

  1. Menggunakan independen variabel yang sama yaitu strategi marketing.

c.Mengambil lokasi penelitian di kota Solo

Perbedaan dari peneliti dan peneliti terdahulu adalah :

a.Peneliti terdahulu mengambil penelitian di Hotel Sahid Jaya Solo sedangkan peneliti mengambil penelitian di Hotel Aziza Solo.

  1. Peneliti terdahulu menggunakan bauran pemasaran sebagai dependen variabel sedangkan peneliti menggunakan metode pendekatan terhadap diferensiasi produk jasa.

2.3            Kerangka Pemikiran

Pada dasarnya dengan adanya perkembangan jaman didalam dunia usaha penjualan produk di pasar (baik produk jasa maupun barang), tidak ada satupun produk yang dijual tanpa adanya strategi pemasaran. Dengan adanya strategi pemasaran tersebut maka setiap perusahaan memiliki tujuan untuk mendapat profit dari setiap produk yang ditawarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut pihak manamen perusahaan harus mampu menciptakan produk dengan inovasi baru dan menarik serta mampu menciptakan konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas dan agar alur pemikiran dapat dipahami dengan baik, maka penulis menggambarkan kerangka pemikiran Penerapan Strategi Pemasaran Melalui Pendekatan Produk Pelayanan Jasa Untuk Meningkatkan Volume Tamu di Hotel Aziza Solo sebagai berikut :

 

                                                                              Gambar 2.1

Kerangka Penelitian Penerapan Strategi Pemasaran Melalui Pendekatan Produk Pelayanan Jasa Untuk Meningkatkan Volume Tamu di Hotel Aziza Solo

Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa untuk mengetahui pencapaian tingkat volume tamu (variabel Y)  pada suatu hotel, maka perlu dilihat hubungannya dengan kegiatan strategi pemasaran sebagai (variabel X) yang terdiri dari (Diferensiasi Produk, Market Segmentation, Market Targeting, dan Market Positioning) yang kemudian dianalisis, sehingga dapat diketahui ada atau tidaknya hubungan dari kedua variabel tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>