Kulanuwun,

“Banyak orang, banyak pikiran, banyak jalan.  Banyak ide bertebaran. Banyak pekerjaan terselesaikan. Walau pun banyak pula perselisihan, disinilah indahnya. Di dalam perselisihan ternyata kita temukan banyak pelajaran yang berharga. Dan, sangat bermanfaat bagi kemajuan hidup kita.”
Itu adalah sepenggal paragraph buah pikiran seorang ketua ASITA. Ketua ASITA, bukan kepala ASITA. Menurut konsep dagelan, ketua itu seorang pemimpin, kepala juga seorang pemimpin.  Akan halnya seorang kepala, ia mendapatkan gaji tetap dan ketua tidak.

Keduanya tetap pemimpin, yang dari nya dimunculkan kebijakan kebijakan yang bermanfaat untuk suatu tujuan kedepan. Seorang pemimpin juga sekaligus berkharakter seorang bapak, sehingga kebijakan itupun tidak lepas dari kebijakan emosional. Ini natural saja, karena mempunyai sifat emosional itulah yang membedakan kita dari mahluk yang lain.

Ing sawijining dina, pada jaman dahulu jauh sebelum Young_kong lahir ada seorang manusia pintar bernama Thomas Jefferson. Pada saat itu beliau sudah membedakan manusia secara garis besar mempunyai tiga kharakter.

1. Anima vegetativa. Disini diuraikan bahwa manusia itu sifatnya ya hanya seperti pohon, seperti tumbuh tumbuhan saja, yang tumbuh begitu saja tanpa maunya sendiri, berkembang biak, akhirnya mati sambil meninggalkan tumbuhan kecil penerus. Hidupnya total tergantung pada alam. Ada angin kebarat ya meliuk kebarat. Angin keselatan ya meliuk keselatan. Just like that so simple, so easy and so natural.

2. Anima sensitiva. Pada kondisi ini “manusia” sudah lebih maju. Mempunya perasaan, sensitif kepada lingkungannya. Bisa merasa lapar dan mencari makan untuk hidupnya. Misal seekor harimau bisa marah (punya emosi?), gelisah, dan lapar sehingga akan mengejar mangsanya (mahluk hidup lain) untuk dimakan. Namun begitu merasa kenyang, ya sudah. Berhenti makan. Bahkan tidak peduli apakah makanannya bersisa atau tidak. kalau bersisa ya dibiarkan membusuk dan akan berburu mangsa baru lagi apabila rasa lapar mendera.

3. Anima intelektiva. Pada tataran ini manusia (pada saat itu) dianggap sudah pada tataran teringgi. Kecuali memiliki kharakter sebagai anima vegetatita dan anima sensitiva, sudah lebih lengkap karena mempunyai intelektualitas. Ini yang sangat membedakan dengan kedua tataran yang disebut diatas. Manusia sudah berfikir dengan akal, dengan rasio, sudah punya hati dan hati nurani. Sebagai contoh, makanan dari alam tidak lagi dimakan mentah namun sudah dibakar atau sudah dibumbui. Memotong motong daging tidak lagi sekedar digigit namun menggunakan alat pemotong. Sisa makanan sudah disimpan dan akan diambil lagi manakala diperlukan dan seterusnya. Dari titik ini bisa dirunut kedepannya dimana manusia “pada saatnya” disebut juga homo sapien atau manusia berpikir.

Ini sedikit menjelaskan mengapa manusia sekarang ini yang sudah dianggap modern kadang kadang masih bisa marah, masih bisa jengkel, masih bisa bertengkar, masih bisa berselisih, sekaligus pemaaf. Jadi sangat alamiah sekali, karena pada dasarnya kita mempunyai hampir segala kharakter alam yang pernah ada dibumi ini. Dibumi, di alam ciptaan Yang Maha Esa ini.

Kita semua di “blend” olehNYA sedemikian rupa sehingga utama karena sempurna.

Bagaimanapun kita pada kesempatan tertentu atau situasi tertentu karena pressure yang membebani akan kembali memunculkan sifat anima sensitiva atau bahkan vegetativa tadi. Namun perlu diingat, bagaimanapun, kita adalah homo sapien yang sudah dan selalu mengedepankan togetherness, society and not just lonely animal. Kita adalah manusia berpikir yang mengedepankan manfaat bersama atas tindakan kita sekarang dan kedepannya rationally.

Ada wewarah dari PB IV dalam pupuh Asmarandana,

nora gampang wong ngaurip
yen tan weruh uripira
padha lan kebo uripe
angur kebo dagingira
kalal yen pinangana
pan manungsa dagingipun
yen pinangan pasti kharam.

 

…………………tulisan Yang Kung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>